Mama, Pelindungku
Mama pergi saat
senja datang,
Saat aku belum paham tentang kehilangan.
Tak ada peluk, tak ada
cerita,
Hanya sunyi menggema di dada.
Kacang mungil, kecil tak kasat mata,
Cerita angin, nyawamu ia bawa serta.
Dunia kecilku jadi kelam,
Sejak kau pergi, hilang tenggelam.
Oh Mama, kau tetap di hati,
Walau ragamu jauh pergi.
Cintamu nyala dalam sunyi,
Kau pelindungku… abadi.
Langkah kecilku bersama nenek,
Hangatkan hati yang mulai resah.
Bayangmu hadir di tiap tawaku,
Mengalun lembut dalam kenangan.
Di pasar kami melangkah pelan,
Menjual sayur dalam hujan dan panas terik jalan.
Saat anak tertawa bermain gembira,
Aku hanya bisa diam, menahan air mata.
Segenggam makanan
dari padi bakar,
Mengingatkanku pada kenangan lama.
Kau pernah duduk di meja
yang sama,
Kini tinggal doa dan air mata.
Di jalan liku, dgn tangis dan tawa,
Aku tahu kau selalu ada.
Dalam hembusan napas dan langkah,
Namamu hidup, tak pernah punah.
Oh Mama, kau tetap di hati,
Pelindungku hingga nanti.
Walau langit sering menangis,
Cintamu… tak pernah habis.
Cristovão Pereira (Likuliku)
15/02/2015
Puisia ne hakerek
wainhira, hau rona itoria sulin hanesan mota, transforma ba Puizia badak idane.
No comments:
Post a Comment